Thursday, May 26, 2016

Kinayah


Kinayah

Dosen Pengampu : Talqis Nurdianto, Lc., MA.



Septiani Nurul Hanifah (20140820018)
Fahrunnisa Ayu Azahra (20180820019)
Aqidah Alan Nisa’ (20140820031)


Pendidikan Bahasa Arab
Fakultas Pendidikan Bahasa
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2016







Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Kinayah ini dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai kinayah. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Yogyakarta, 26 Mei 2016 




Tim Penyusun



Daftar Isi







Menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang sangat indah dan sarat akan makna itu tidaklah mudah. Apalagi Al-Quran merupakan mukjizat terindah dan teragung yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW.
Salah satu saran dari sekian banyak disiplin ilmu yang dapat dipergunakan untuk mencapai maksud itu adalah balaghah, karena balaghah merupakan disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian yang menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang sama di antara macam-macam uslub (ungkapan). Balaghah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih.
Ilmu bayan terdiri atas empat bahasan, salah satunya yakni kinayah. Keberadaan kinayah menjadi penting karena banyak sekali teks-teks arab yang menggunakan kinayah untuk memperindah makna. Untuk itu tim penyusun menyusun makalah ini guna menjelaskan lebih dalam tentang kinayah dalam ilmu bayan.
1.      Apa pengertian kinayah?
2.      Apa saja macam-macam kinayah?

1.      Mengetahui apa makna kinayah
2.      mengetahui macam-macam kinayah





Secara bahasa kinayah berasal dari lafadz كنا- يكنو/ كنى- يكنى- كناية   yang berarti menerangkan sesuatu dengan perkataan lain atau mengatakan dengan kiasan atau sindiran.
Secara leksikal kinayah bermakna ما يتكلم به الإنسان ويريد به غيره (suatu perkaataan yang diucapkan oleh seseorang akan tetapi maksudnya berbeda dengan teks yang diucapkannya).
Sedangkan secaara terminologis adalah:
كلام أطلق وأريدبه لازم معناه مع جواز المعنى الأصلى
“Suatu kalimat yang diungkapkan dengan maksud makna kelazimannya, akan tetapi tetap dibolehkan mengambil makna haqiqinya.”[1]

Dengan kata lain, الكناية (al-kinayah) sesuatu kalimat yang disampaikan namun yang dikehendaki dari kalimat itu adalah makna yang lain bukan makna yang sebenarnya. Di samping itu, ada kemungkinan yang dikehendaki adalah makna yang sebenarnya, jika memang tidak ada catatan yang melarang untuk itu.[2]
Dilihat dari segi maknanya kinayah terbagi menjadi tiga, yaitu:
Kinayah Sifat
Kinayah Sifat adalah kinayah yang berupa sifat. Mukanna ‘anhunya berupa sifat yang menetap di maushufnya (menentukan sifat untuk maushuf). Kinayah sifat juga dapat diartikan pengungkapan sifat tertentu tidak dengan jelas, melainkan dengan isyarah atau ungkapan yang dapat menunjukkan maknanya yang umum.
Kinayah sifat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
Kinayah qaribah yaitu kinayah yang perpindahan makna dari lafadz yang di kinayahkan (mukanna‘anhu) kepada lafadz kinayah (mukanna bih) tanpa melalui perantara.
Contoh:
رفيع العماد طويل النجاد
Ungkapan “رفيع العماد” dan “طويل النجاد” pada asalnya bermakna tinggi tiangnya dan panjang sarung pedangnya. Dalam uslub kinayah, lafal-lafal tersebut bermakna pemberani dan terhormat. Ungkapan-ungkapan tinggi tiangnya dan panjang sarung pedangnya sudah langsung bermakna terhormat dan pemberani. Perpindahan makna dari makna asal ke makna kinayah terjadi tanpa memerlukan wasilah atau perantara lafal-lafal lainnya.
Kinayah ba’idah yaitu kinayah yang perpindahan makna dari lafadz yang di kinayahkan (mukanna ‘anhu) kepada lafadz kinayah (mukanna bih) melalui perantara.
Contoh:
فلان كثير الرماد إذا ما شتا
كثير الرماد yang bermakna banyak abunya. Namun yang dimaksud bukanlah makna yang sebenarnya, melainkan makna lain yang menjadi kelazimannya. Yang dimaksud oleh al Khanza adalah seorang yang banyak abunya banyak menyalakan api, orang yang banyak menyalakan api berarti banyak memasak, orang yang banyak memasak berarti banyak tamunya, orang yang banyak tamunya berarti dermawan.

Kinayah Mausuf
Kinayah maushuf yaitu kinayah yang mukanna ‘anhunya berupa maushuf. Pada kinayah ini di syaratkan sifatnya harus khusus untuk maushuf.

Contoh:
أبناء النيل
“Bangsa Mesir”

تطورت وسائل الانتقال والسفر من سفينة الصحراء إلى ماخرة البحار ومن ذوات الصهيل إلى بنات الهواء
“Alat transportasi dan perjalanan kini telah berevolusi dari perahu padang pasir menjadi pembelah lautan dan dari kendaraan meringkik menjadi anak-anak udara”..
Kinayah Mausuf ada dua jenis:
Kinayah yang mukana ‘anhunya (lafal yang di-kinayah-kan) diungkapan hanya dengan satu ungkapan, seperti ungkapan “موطن الأسرار”, sebagai kinayah dari lafal القلب.
Kinayah yang mukana ‘anhunya diungkapkan dengan ungkapan yang banyak, seperti ungkapan “حى مستوى القامة عريض الأظفار” sebaagai kinayah dari lafal الإنسان. Pada jenis kinayah ini, sifat-sifat tersebut harus dikhususkan untuk maushuf, tidak untuk yang lainnya.

c. Kinayah Nisbah
 متقرب من صاحبي فإذا مشت      في عطفه الخيلاء لم أتقرب
“aku (selalu) mendekati sahabatku, namun jika kesombongan mengalir dalam emosinya maka aku tidak mendekatinya”
Emosi = orangnya.
المجد بين ثوبيك # والكرم ملء برديك
“Keagungan berada di kedua pakaianmu, dan kemuliaan itu memenuhi kedua baju burdahmu.”
Pada syi’ir di atas pembicara bermaksud menisbahkan keagungan dan kemuliaan kepada orang yang diajak bicara. Namun, ia tidak menisbatkan kedua sifat itu secara langsung kepadanya, melainkan kepada sesuatu yang berkaitan dengannya, yakni dua pakaian dan dua selimut. Kinayah yang berupa panisbatan seperti ini dinamakan kinayah nisbah.

2.      Dilihat dari segi perantara (media) atau kelazimannya, kinayah terbagi menjadi empat,yaitu:
a.       Ta’ridh ( تعريض )
Yaitu perkataan untuk menunjukkan suatu makna yang tidak disebutkan (tidak terang maksudnya)
Contoh: 
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
”Seorang muslim yang sebenarnya adalah yang tidak mengganggu muslim yang lainnya dengan lisan dan tangannya” 
Contoh tersebut mengisyaratkan tiadanya sifat islam dari orang yang menyakiti.
Orang Arab sendiri biasa mengungkapkan sesutu dengan model ta’ridh. Model ini lebih halus dan indah dibandingkan dengan pengungkapan secara terang-terangan. Jika seseorang mengungkapkan sifat orang lain dengan cara terang-terang, maka orang tersebut tentu akan merasa terhina.

b.      Talwih  (تلويح )
Yaitu kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhu terdapat media atau perantara yang banyak.
Contoh:
وَمَا يَكُ فِيَّ مِنْ عَيْبٍ فَإِنَّى # جَبَانُ الكَلْبِ مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ
“padaku tidak terdapat aib # Karena aku adalah pengecut anjingnya dan kurus anak sapinya.”

Pada syi’ir tersebut terdapat ungkapan “جَبَانُ الكَلْبِ” dan “مَهْزُوْلُ الْفَصِيْلِ”. Kedua ungkapan ini pada dasarnya menggunakan gaya bahasa kinayah. Kedua ungkapan ini bermakna seseorang yang mulia. Ungkapan “جَبَانُ الكَلْبِ”, mempunyai pengertian bahwa dia sering mencegah anjingnya menggonggong pada tamu yang datang. Upaya dia mencegah anjingnya ini merupakan bentuk penghormatan kepada tamunya. Kebiasaan menghormaat tamu menunjukkan banyak sekali orang yang datang kepadanya. Dan banyak tamu yang datang menunjukkan bahwa dia itu orang baik dan mulia.
Ungkapan ini merupakan ungkapan kinayah. Adanya perpindahan makna dan arti hakiki ke arti yang lazimnya melalui beberapa media dinamakan kinayah talwih.



c.       Ramz  رمز )
Yaitu kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhunya terdapat sedikit media atau perantara dan lazimnya tersirat.
Contoh:
فُلَانُ عَرِيْضُ القَفَا وَعَرِيْضُ الوِسَادَةْ 
Si fulan lebar tengkuknya dan lebar bantalnya
sebagai kinayah untuk mengungkapkan orang idiot atau bodoh.

مكتنز اللحام
dagingnya padat atau gempal
sebagai kinayah untuk mengungkapkan orang yang berani.

متناسب الأعضاء
anggota tubuhnyanya tersusun rapih
sebagai kinayah untuk mengungkapkan orang yang cerdik.

غليظ القلب
tebal hati
sebagai kinayah untuk mengungkapkan orang yang keras kepala.

d.      Imak atau isyaroh الإيماء أو الإشارة )
Yaitu kinayah yang diantara mukanna bih dan mukanna ‘anhunya tidak banyak terdapat media atau perantara,dan tidak samar. Pada kinayah jenis ini, makna lazimnya tampak dan makna yang dimaksud juga dekat.

Contoh:
فاصبح يقلب كفيه على ما انفق فيها وهي خاويةالكهف : ٤٣(
“maka ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya terhadap apa yang ia infakkan, sedangkan telapak tangannya itu kosong”.

Pada ayat di atas terdapat ungkapan “يقلب كفيه” makna asal ungkapan tersebut adalah ‘membolak-balikkan kedua telapak tangannya’. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan kinayah yang maksudnya menyesal. 



الكناية (al-kinayah) sesuatu kalimat yang disampaikan namun yang dikehendaki dari kalimat itu adalah makna yang lain bukan makna yang sebenarnya. Di samping itu, ada kemungkinan yang dikehendaki adalah makna yang sebenarnya, jika memang tidak ada catatan yang melarang untuk itu.
Kinayah terbagi menjadi beberapa kategori
Dilihat dari segi maknanya kinayah terbagi menjadi tiga, yaitu:
Kinayah Sifat
Kinayah sifat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
1)      Kinayah qaribah
2)      Kinayah ba’idah
Kinayah Mausuf
Kinayah Nisbah

Dilihat dari segi perantara (media) atau kelazimannya, kinayah terbagi menjadi empat,yaitu:
Ta’ridh ( تعريض )
Talwih  (تلويح )
Ramz  رمز )
Imak atau isyaroh الإيماء أو الإشارة )


Idris, M. (2016). Retorika Berbahasa Arab Kajian Ilmu Bayan. Yogyakarta: Pernerbit KaryaMedia.
Zaenuddin, M., & Nurbayan, Y. (2007). Pengantar Ilmu Balaghah. Bandung: PT Refika Aditama.



[1] M. Zaenuddin & Y. Nurbayan, Pengantar Ilmu Balaghah, hal 46
[2] Mardjoko Idris, Retorika Berbahasa Arab Kajian Ilmu Bayan, hal 95

No comments:

Post a Comment

Manis atau Pahit?

Mendengar kalimat yang sama terus menerus menyebalkan bukan?  Atau nasihat yang lebih terdengar seperti kritik tajam untuk diri ini, terasa ...